Mengayam Nasib Dengan Bambu  

Posted by De Brat in

BAMBU menjadi berkah alam bagi seorang Tono. Bemodal kerja keras, keuletan dan konsistensi, ia bisa menganyam nasibnya menjadi lebih baik. Bambu telah menghidupi keluarga, karyawan, bahkan mengongkosinya bertandang ke tanah suci.

Jangan dibayangkan tempat usaha milik Tono adalah sebuah pabrik besar. Mungkin lebih tepatnya disebut bengkel kerajinan, berada di daerah Rawa Kalong Tambun Utara. Hanya berupa saung berdinding bambu, beralas tanah. Setiap mata memandang hanya batang-batang bambu yang memenuhi pelataran. Ada yang masih berbentuk utuh, terpotong-potong, banyak juga yang sudah disulap menjadi mebeler.

Saat penulis datang, lelaki berkulit gelap asal Subang tersebut tengah asik merampungkan sebuah kursi. Tiga orang pekerjanya juga sama, satu di depan memotong bambu menjadi ukuran kecil, ada yang sedang merakit meja, satu dibelakang sedang mengamplas. Sesekali mereka saling melontarkan canda dan mengobrol ringan satu sama lain. “Kerja kita setiap hari begini, santai. Tapi yang penting sesuai target,” kata Tono menyambut kedatangan penulis.

Tono menuturkan, bahwa ia sudah merintis usahanya sejak tiga tahun silam. Keahliannya menganyam bambu merupakan warisan dari keluarganya. Bukan perkara mudah memang, tapi perlu keahlian dan kecermatan agar menghasilkan kualitas yang bagus dan tahan lama.

Tadinya hanya iseng belaka. Ia membuat kursi untuk santai di depan kontrakannya dari bambu-bambu bekas yang tidak terpakai. Beberapa tetangga dan kenalan yang melihat kemudian minta dibuatkan. Ternyata, meja dan kursi rakitannya laris manis. Tono kebanjiran order. Pelan tapi pasti, usahanya berkembang pesat, sampai ia memiliki bengkel dan memperkerjakan tiga orang karyawan.

“Saya sendiri tidak pernah menyangka bakal secepat ini. Hanya dari bambu, saya sekarang sudah bisa melihat Ka’bah yang sebelumnya hanya mimpi,” kenang Tono bangga.

Namun, bukan berarti perjalanan bisnisnya selalu mulus tanpa kendala. Ia mengaku pernah hampir gulung tikar karena kena tipu. Seorang langganannya di Tanggerang raib tanpa membayar setelah memesan 30 set meja kursi dengan nilai puluhan juta. Pernah juga sepi pesanan karena maraknya persaingan pengrajin bambu. Namun, Tono tetap bertahan.

Dalam satu minggu, setidaknya ia dan tiga orang karyawannya bisa memproduksi satu set kursi tamu yang terdiri dari dua buah kursi kecil, kursi panjang dan mejanya. Membutuhkan waktu yang lebih lama jika menggunakan aksesoris. Satu set kursi tamunya, dilego seharga Rp. 600.000, jika memakai hiasan harganya mencapai Rp. 800.000. Harga tersebut jika beli di bengkel dan tokonya, akan menjadi mahal jika beli di penjual keliling.

Selain meja dan kursi, ia juga membuat tangga yang dijual seharga Rp. 10.000 permeter. Ada juga lemari, dan keranjang ayunan bayi dan kerai, yang dijual dengan harga variatif dan hanya dibuat berdasarkan pesanan. Ia berpromosi bahwa produk buatannya berkelas dan berkualitas tinggi. “Bahan bakunya pilihan, proses pengerjaannya juga tidak sembarangan. Kita berani memberi jaminan” ujar bapak satu anak ini.

Tono sengaja mendatangkan bambu-bambu pilihan dari wilayah Bogor. Jenis bambu hitam yang dipakai Tono untuk membuat kerajinan buatannya. Sekali pesan, mencapai 1.300 batang bambu dengan ukuran kecil dan besar. Untuk 1300 batang bambu hitam, Tono harus membayarnya plus ongkos kirim hingga Rp 3 juta. "Kalau sedang ramai empat bulan juga habis," tuturnya.

Tono berproduksi tak bergantung pada pesanan. Selama dia masih punya bahan baku, Tono dan karyawannya akan terus berproduksi. Produknya diedarkan di wilayah Jabotabek. Kini, ia bisa menikmati jerih usahanya. Meski awalnya hanya bermodal dengkul.***

Sumber Tulisan : Suplemen Bekasi Raya Pikiran Rakyat Edisi 12 Oktober 2009.

This entry was posted on Kamis, 07 Oktober 2010 at 10:21 AM and is filed under . You can follow any responses to this entry through the comments feed .

0 komentar

Posting Komentar