Bertahan Hidup Dengan Peti Mati  

Posted by De Brat in

Bagi Sebagian orang, peti mati mungkin akan terdengar menyeramkan. Maklum, peti mati akrab dengan suasana kematian dan alam kubur. Padahal peti mati tidak bisa dipisahkan dari kehidupan masyarakat. Terutama bagi penganut kepercayaan tertentu yang digunakan untuk perlengkapan pemakaman. Sehingga ada saja orang yang mencoba mengadu peruntungan mengelola bisnis peti mati.

Seperti yang dilakukan oleh Kin Tan, pembuat peti mati yang berada di Jalan. Djuanda, Kelurahan Margahayu, Bekasi Timur Kota Bekasi. Pria keturunan Tionghoa ini, sudah melakoni pekerjaan ini sejak tahun 1986. Menurutnya, pekerjaan tersebut merupakan warisan dari nenek moyangnya sejak tahun 1960. Sampai generasi kedua, kini Kin Tan masih meneruskan usaha mendiang ayahnya agar tetap langgeng.

Membuat peti mati, adalah pekerjaan yang tidak melulu berorientasi bisnis. Tapi didalamnya ada muatan sosial dan spiritual. Sebab, di satu sisi ia harus mendapatkan untung dari keluarga yang berduka. Tapi ia juga tidak segan-segan memberikannya secara cuma-cuma ketika memang keluarga yang meninggal tidak mampu membeli peti mati.

”Setiap saya membuat peti mati, saya kadang berfikir. Suatu saat nanti saya yang akan berada didalamnya. Jadi ingat Tuhan terus,” papar Kin Tan

Bisnis peti mati tidak dapat diukur secara pasti. Kendati, permintaan terhadap peti mati dari tahun ke tahun selalu meningkat. Terutama menjelang perayaan besar penganut ajaran tertentu. Dirinya yakin jika usahanya akan terus langgeng. “Bukan berarti saya mendoakan agar banyak orang yang meninggal, agar jualan saya laku,” kata Kin Tan sembari tertawa.

Ditemui di bengkelnya, Kin Tan mengaku membuat beragam jenis peti mati dengan berbagai ukuran, model, jenis kayu dan lain-lain, bahkan peti mati ukuran anak kecil pun ia sediakan.

Harga satu peti mati tradisional ukuran standar dewasa berbahan kayu jati, dibandrol harga kisaran Rp 500.000 – 1.000.000. Kin Tan juga menyediakan perlengkapan pemakaman khusus bagi penganut tradisi Tionghoa ditambah prosesi pemakaman. ”Permintaannya bukan hanya dari Bekasi, tapi juga Jakarta, Depok, Tanggerang dan Bandung” ujarnya.

Untuk mengerjakan satu peti mati, tidak membutuhkan banyak orang. Biasanya hanya dikerjakan bertiga, satu orang tukang kayu, satu orang tukang cat dan ukir dan finising yang dilakukan oleh Kin Tan sendiri. Kin Tan mengaku harus mengatur siasat agar bisa terus memproduk peti mati dengan harga murah namun tetap mengedepankan kualitas. Pasalnya, kebanyakan pembeli mencari peti mati yang harganya murah. ”Kita tidak tega juga kalau jual mahal-mahal,” ujar Kin Tan

Menurutnya, jenis yang paling banyak diminati adalah jenis Eropa. Khususnya kaum Tionghoa yang tinggal di perkotaan. Sedangkan jenis tradisional lebih banyak digunakan oleh mereka yang tinggal di daerah pinggiran dan menganut ajaran kuat. Daya tahan peti mati tradisional berbahan kayu jati bisa sampai 20 tahun terpendam di dalam tanah. Sedangkan untuk model eropa bisanya Cuma 10 tahun.

Kin Tan mengaku terkendala dengan keberadaan tempatnya yang kecil. Sehingga sering kali terkesan bukan toko. Selain itu juga tidak bisa memuat banyak peti mati. Selain membuat sendiri, Kin Tan juga menerima titipan peti mati dari Jepara untuk dijual di bengkelnya. Karena masalah modal inilah, Kin Tan mengaku tidak bisa membuat peti mati yang bagus. Karena harganya sangat mahal.

Untuk bisa bertahan dalam bisnis peti mati, Kin Tan mengaku bermodal kesabaran dan pertemanan. Karena promosi penjualan peti mati biasanya dari mulut ke mulut dan kepercayaan Selain itu, juga bekerjasama dengan berbagai rumah duka di Bekasi, Jakarta dan Tanggerang. ”Saya jalani aja, lumayan, sampai sekarang bisa buat nyambung hidup,” lirih Kin Tan.***

Sumber Tulisan : Suplemen Bekasi Raya Pikiran Rakyat Edisi 04 Mei 2009
Silahkan dilanjoet...

Jalan Kemakmuran, Surga Penggemar Kerang dan Kepiting  

Posted by De Brat in

Anda Pecinta makanan laut seperti kepiting dan kerang? Gemar memasak sendiri?. Tidak perlu repot ke pasar atau ke tempat pelelangan ikan untuk medapatkannya. Jika anda tinggal di Kota Bekasi mampirlah ke Jalan Kemakmuran, tepatnya di belakang Asrama Haji Bekasi, puluhan lapak berjajar menjajakan aneka jenis kerang dan kepiting.

Mulanya hanya ada dua lapak di tempat tersebut lima tahun yang lalu. Saat ini, jumlahnya kian bertambah mencapai puluhan lapak. Setiap sore ramai dipadati pembeli, terlebih jika malam minggu atau hari libur. Suasananya mirip dengan pasar tumpah. Bahkan jika anda kebetulan melintas, aroma amis laut terasa begitu menyengat.

Para pembelinya datang dari berbagai daerah di Bekasi, mulai yang menggunakan mobil mengkilap sampai sepeda motor butut, nampak asyik melihat dan menawar kepiting dan kerang. Rupanya kepiting dan kerang jenis makanan yang lezat dan bergizi. Harganya juga relatif terjangkau. Tak heran kedua jenis binatang laut ini banyak diburu.
Salah seorang pedagang, Asim, mengaku sudah dua tahun berjualan di tempat tersebut.

Sehari-harinya Asim berjualan dari pukul 08.00 – 22:00. Dini hari sebelum menggelar dagangannya, Asim berbelanja Kepiting dan kerang di Tanjung Priok. Asim membeli kepiting seharga Rp. 16.000 perkilo dan dijual Rp. 20.000. Sedangkan kerang, ia membeli dengan harga Rp. 26.000 perember, yang kemudian dijual lagi seharga Rp. 4.000 perkilo. Harga jual kepiting dan kerang disemua lapak sama, mereka seolah telah membuat kesepakatan tidak tertulis tentang harga jual. “Kita kan belanjanya ramai-ramai, jadi harganya sama,” ujar Asim

Kerang dan kepiting yang mereka beli dicuci terlebih dahulu agar terlihat bersih, kemudian ditata rapi di atas lapak berukuran 1 x 2 meter. Diatasnya, bergantung kipas angin kecil yang terus berputar untuk mengusir lalat. Setiap dua jam sekali, tumpukan kerang dan kepiting tersebut disiram dengan air sungai yang ada dibelakang tempat mereka berjualan agar tidak bau. Menurut Asim, kuncinya adalah selalu basah. Daya tahan kerang bahkan bisa sampai tiga hari. Namun rata-rata dagangannya selalu habis setiap hari.

Dalam sehari, Asim dan kawan-kawannya bisa mengantongi Rp. 40.000 keuntungan bersih untuk dibawa pulang. Jika hari libur dan tanggal muda, pendapatannya bisa berlipat dua. Biasanya kerang dijadikan kudapan rame-rame pada malam minggu atau hari libur.

“Pas malam tahun baru kemaren, jam 5 sore, kerang hijau udah ludes diborong” kata Asim sumringah.

Dari berjualan kepiting dan kerang lah, ia mengantungkan hidupnya sehari-hari. Namun bila musim penghujan seperti sekarang ini, pendapatannya menurun. Pasalnya tidak ada pembeli yang mampir. “Kalau ngak laku ya, dimakan sendiri aja,” canda Asim yang berdagang ditemani istrinya.

Salah seorang pembeli, H.Anne mengatakan, dirinya sudah sering belanja di tempat ini, selain tidak perlu berdesak-desakan di pasar, harganya juga relatif lebih murah dan barangnya masih segar. “Biasanya sehabis pulang kerja saya mampir untuk beli kerang buat dimasak di rumah,” kata H. Anne.

Namun belakangan ini, para pedagang mulai resah. Beredar kabar, tempat mereka berjualan bakal digusur karena dianggap merusak estetika kota. Asim dan teman-temannya tidak tahu harus berbuat apa jika pengusuran tersebut jadi dilaksanakan. Selama ini, hanya dengan berjualan kerang dan kepitinglah mereka menghidupi keluarga. Bukan hanya pada pedagang yang dirugikan, para pelangganpun pastinya akan kehilangan tempat belanja favorit mereka.

“Binggung mas, kalau jadi digusur mau jualan dimana lagi?” keluh Ahmad Duin, salah seorang pedanga lainnya.

Asim dan Ahmad Duin berharap, pemerintah mengurungkan niatnya melakukan pengusuran. Toh mereka selama ini berjualan dengan tertib dan tidak meninggalkan sampah dan membayar retrebusi kepada pihak kelurahan sebesar Rp. 3000 perminggu. “Kalau bisa malah kita harusnya dibantu, biar lapaknya semi permanen, jadi pas hujan tidak kehujanan,” keluh Asim.***

Sumber Tulisan : Suplemen Bekasi Raya Pikiran Rakyat Edisi 9 Februari 2009
Silahkan dilanjoet...

Arang Batok Makin Membara  

Posted by De Brat in

Kelangkaan minyak tanah di Kota Bekasi rupanya membawa berkah bagi pembuat arang batok kelapa di Bekasi. Warga mulai melirik bahan bakar alternatif yang harganya lebih ekonomis dan praktis untuk keperluan memasak sehari-hari.

Hal tersebut diungkapkan oleh Supandi, pembuat arang batok kelapa, saat ditemui di tempat pembakaran arang di Jl. Prof Mohamad Yamin, Kelurahan Duren Jaya.

Sejak pengunaan minyak tanah diganti gas, permintaan batok kelapa bertambah tinggi. Dalam satu hari, Supandi mengaku dapat menjual paling sedikit 10 pak yang berisi 3 kilo arang. Harga setiap pak adalah Rp. 15.000. Padahal biasanya, ia hanya sanggup menjual 5 pak/hari, itupun untuk keperluan rumah makan yang sudah menjadi langganan tetapnya. Belakangan, banyak ibu rumah tangga ikut membeli arangnya, menurut Supandi biasanya digunakan untuk memasak dengan mengunakan kompor yang dirancang khusus.

“Memasak mengunakan arang biayanya lebih murah dan rasa masakannya lebih enak,” kata Supandi yang sudah menekuni usahanya sejak tahun 2000.

Cara mendapatkan bahan bakunyapun tergolong unik, yaitu dengan sistem kontrak tahunan kepada para pedagang kelapa (lazim disebut lapak) di Pasar Baru Bekasi. Supandi harus merogoh kocek antara Rp. 700.000 - Rp. 1.000.000 untuk setiap lapak. Rata-rata dari setiap lapak Supandi bisa membawa pulang 1 karung batok perhari. Cara ini dilakukan untuk mengantisipasi persaingan yang semakin ketat dan demi kesinambungan bahan baku produksi. Supandi menuturkan, pada masa awal ia merintis usahanya, ada 50 lapak yang dikontraknya. Namun sekarang, cuma tinggal 10 lapak. “Maklum modalnya semakin menipis untuk menyekolahkan anak,” ujar Supandi.

Repotnya transaksi batok kelapa tidak ada perjanjian yang mengikat. Jika pedagang kelapa sedang libur atau berhenti, Supandi harus rela uangnya menguap. Namun jika penjualan kelapa meningkat, maka ia bisa membawa pulang berkarung-karung batok kelapa, biasanya pada bulan-bulan hajatan atau menjelang lebaran.

Proses pembuatan arang batok dapat dibilang sangat sederhana, tapi jika tidak terbiasa maka hasilnyapun tidak akan bagus. Sebelum dibakar, terlebih dahulu Supandi dan dua orang anak buahnya akan memisahkan batok kelapa berdasarkan kadar airnya, jika kering maka bisa langsung dibakar, yang masih basah dijemur terlebih dahulu. Sebelum bahan baku dimasukkan semuanya ke dalam drum, terlebih dahulu ia membakar sebagian batok kepala sebagai “pancingan” sampai menjadi bara. Baru kemudian bahan baku akan dimasukkan semuanya. Setiap kali pembakaran diperlukan waktu selama 8 jam.

Setelah selesai proses pembakaran, arang terlebih dahulu didinginkan selama satu malam. Baru kemudian diayak dan dibersihkan untuk memilah arang yang hendak dipak. Biasanya arang yang hancur dan basah akan dibakar lagi atau dijadikan bahan bakar “pancingan”. Maka wajar jika arang buatan Supandi lebih kering dan bersih. Dalam satu hari Supandi mampu memproduksi 100 Kg arang.

Menurut Supandi banyak pembuat arang yang mengunakan minyak tanah untuk mempercepat proses pembakaran, namun menurut Supandi hal tersebut justru menyebabkan kualitas arang jadi jelek, misalnya ketika dibakar akan cepat habis. Ada juga yang dengan mematikannya mengunakan air, sehingga ketika ditimbang jadi lebih berat karena ada kadar airnya yang jika digunakan panas yang dihasilkan tidak maksimal. “Banyak yang pengen cari untung cepat,” kata Supandi.

Kelihatanya memang sangat sederhana dan mengiurkan, tapi jangan salah, banyak yang coba-coba terjun ke bisnis ini tapi kemudian tidak sampai satu bulan paling lama 6 bulan gulung tikar. Menurut Supandi, hal ini dipengaruhi karena bisnis ini tidak dapat dipelajari secara teoritis namun harus langsung terjun. Sehingga memahami betul, mulai dari pemilihan dan pembelian bahan baku, proses pembuatan sampai distribusi. Supandi sendiri mengaku sempat terseok-seok ketika memulai usahanya. “Saya dulu sempat mensuplay arang ke pabrik peleburan baja,” kata Supandi yang menuturkan bahwa arang memiliki kadar panas pembakaran yang sangat tinggi.

Kini, Supandi telah memetik kerja kerasnya. Pembelipun dengan sendirinya berdatangan ke tempat pembakaran miliknya. Bagi Supandi kualitas dan kepuasan pelanggan adalah nomor satu. Dari usaha membuat arang, ia sudah berhasil menyekolahkan ke tiga anaknya sampai ke jenjang perguruan tinggi. Anda berminat ? ***

Sumber Tulisan : Suplemen Bekasi Raya Pikiran Rakyat Edisi 05 Mei 2008
Silahkan dilanjoet...

Eretan, Transportasi Alternatif Antar Kabupaten  

Posted by De Brat in

Ketidaknyamanan Bagi banyak orang, kadang justru malah menjadi berkah bagi segelintir orang. Kondisi rusaknya sarana Jalan di Muara Gembong, malah disyukuri oleh para penarik perahu eretan di sepanjang Sungai Citarum yang memisahkan Kabupaten Bekasi dan Kabupaten Karawang. Semakin lama jalan diperbaiki, kian banyak rupiah yang didulang.

Bagi yang tinggal di daerah Muara Gembong, eretan bukanlah sarana transportasi yang aneh. Tapi bagi para pendatang dan pelancong, naik eretan adalah sensasi baru. Badan kapal yang bergoyang-goyang dihalau air, semilir air, pemandangan yang membentang dan wajah-wajah manusia desa yang bersahaja membuat kita serasa hidup di daerah luar pulau jawa, bukan di Kabupaten Bekasi yang dekat Ibu Kota Negara.

Eretan adalah sarana transportasi air yang menghubungkan Muara Gembong dan Kabupaten Kawarang. Keberadaan mereka berjajar sepanjang Kali Bekasi ketika mulai memasuki daerah Muara Gembong disepanjang sungai yang dibuat oleh Raja Punawarman di Era kejayaan Kerajaan Tarumanegara. Tidak adanya jembatan penghubung dan kerusakan jalan menjadikan eretan sebagai transportasi alternatif yang digemari.

Eretan berbentuk perahu kayu berbadan lebar 3 meter dan panjangnya mencapai 10 meter. Tidak menggunakan mesin tapi digerakkan dengan tenaga manusia. Satu Eretan biasanya diawaki oleh dua orang. Masing-masing berada di ujung untuk mengerakkan dan mengendalikan perahu dengan berpegangan pada seutas tali baja yang dibentangkan menyeberangi sungai. Untuk memudahkan, tali baja tersebut dikaitkan dengan perahu dan diberi roda besi. Tali ini berfungsi untuk menjaga keseimbangan perahu dari arus sungai yang deras. Dengan pola seperti ini, sebuah eretan bukan saja mampu menyebarangkan kendaraan roda dua, tapi juga mobil bahkan truk.

Tarif untuk satukali menyebarang juga tergolong murah, untuk kendaraan roda dua hanya dipatok Rp. 2.000 dan Rp. 15.000 untuk roda empat, sedangkan untuk truk dikenakan biaya Rp. 25.000. Dalam satu hari, Masudi menyebarangkan 15-20 kendaraan roda dua dan roda empat. “Lumayan sih mas, bisa buat makan sehari-hari,” kata Masudi yang mengaku sudah hampir 15 tahun dirinya menjalan provesi sebagai penarik perahu eretan

Warga Muara Gembong lebih memilih jalur Pakis Rengas Dengklok jika hendak ke Cikarang atau Pemda Bekasi ketimbang harus menempuh jalur darat melewati Sukatani, Pebayuran. Sebab jalan menuju pusat Cikarang kondisinya rusak berat. Sedangkan jalan daerah Karawang tidak terlampau parah.

Menurut penuturan beberapa orang warga Muara Gembong yang dijumpai hendak menyeberang ke Karawang mengatakan, untuk menuju terminal bayangan, yang merupakan mangkal sejumlah bus tiga perempat, mereka harus merogoh kocek sebesar Rp 25 Ribu rupiah dengan jarak tempuh sekitar 1 Km. Sesampai di terminal bayangan, Warga yang ingin pergi ke pusat perkotaan seperti Cikarang harus rela menunggu hampir setengah jam. "Ongkosnya juga lumayan mahal Rp 25 ribu rupiah setiap kali berangkat," terang Anwar salah seorang warga yang hendak menyeberang.

Jika dihitung, warga Muara Gembong yang hendak ke Cikarang terpaksa harus mengeluarkan ongkos Rp. 100.000 untuk perjalanan pulang pergi. Mereka lebih memilih untuk pergi ke Karawang guna mencari kebutuhan sehari-hari. Ongkos yang mereka keluarkan hanya Rp. 50.000 untuk perjalanan pulang pergi. “Lumayan jug akan, bisa ngirit,” ujar Anwar.

Masudi, salah seorang pemilih perahu, mengaku ketiban untung dengan kerusakan jalan di daerah Bekasi. Kian lama jalan tersebut diperbaiki, semakin banyak pula omset yang bakal masuk kantongnya. Lonjakan penumpang perahu dirasakan oleh Masudi semenjak lebaran kemarin, selain itu di hari-hari libur juga banyak orang yang menyebarang. Kebanyakan mereka datang dari Kabupaten Bekasi untuk bersilaturahmi di rumah sanak familinya yang berada di Karawang atau sekedar menghabiskan waktu memancing di pantai Pakis yang terkenal sebagai “surganya para pemancing”.***

Sumber Tulisan : Suplemen Bekasi Raya Pikiran Rakyat Edisi 12 Januari 2009
Silahkan dilanjoet...

Mengantungkan Hidup Dari Eceng Gondok  

Posted by De Brat in

Dulu dibuang, terus disayang, kini nyaris hilang. Seperti itulah nasib tanaman eceng gondok. Tanaman yang memiliki nama latin Eichornia crassipes dan pernah dijuluki “Gulma Form Java”.

Eceng gondok tadinya dianggap tanaman yang tidak berdaya manfaat apapun. Malah keberadaannya hanya dianggap sebagai gulma dan kerap merepotkan. Karena eceng gondok yang tumbuh di bantaran sungai menyebabkan terhambatnya aliran air sungai. Namun pada awal tahun 2000, eceng gondok kemudian menjadi primadona dan banyak dicari oleh orang. Tanaman yang dahulu dibuang berubah disayang bahkan sengaja dibudidayakan.

Bahkan, eceng gondok telah menghidupi ratusan petani yang hidup di Kampung Pondok Soga, Desa Hurip Jaya, Kecamatan Babelan dan Desa Suka Tenang, Kecamatan Suka Wangi, Kabupaten Bekasi.

Hampir sebagain warga, yang rata-rata berprofesi sebagai petani, mencari penghasilan tambahan dan tidak sedikit malah yang mengantungkan hidup mereka dari eceng gondok. Terutama bagi meraka yang tinggal di bantaran kali, sengaja membudidayakan eceng gondok.

Seperti terlihat di Kali Pondok Soga yang merupakan kali mati sepanjang 12 kilometer yang melintas di Kecamatan Babelan dan Sukawangi. Disebut sungai mati, karena tidak sampai ke laut, lantaran terpotong sungai CBL yang lebih besar. Di atas sungai inilah, warga membudidayakan eceng gondok yang dijadikan ajang penghidupan baru. Bagi yang tidak kebagian kapling di bantaran kali, mereka mencari atau membudidayakannya di rawa yang masih banyak terdapat di daerah tersebut.

Awalnya warga sendiri tidak tahu bahwa eceng gondok memiliki nilai ekonomi. Kasmad, salah seorang warga menuturkan, bahwa pada awal 2000, ada seorang warga yang menanam eceng gondok. Beberapa warga yang belum tahu bahkan menertawakan. Tapi ternyata, eceng gondok yang sudah dijemur kering tersebut dijual dengan nilai ekonomis tinggi. “Setelah tahu nilai ekonomisnya, warga berebut untuk mendapatkan lahan di bataran kali,” terang Kasmad.

Eceng gondok yang sudah kering kemudian dibeli oleh tengkulak dan dibawa ke Cirebon, pada saat itu warga masih samar-samar bahwa eceng gondok ini dijadikan bahan baku untuk beberapa barang kerajinan seperti, sandal, dompet, rempat tisu, dan banyak lainnya. “Kita tidak tahu mau buat apa. Pada waktu itu, kita tahunya menanam, panen, jemur terus jual,” kata Kasmad seolah tanpa beban.

Baru pada awal tahun 2002, di Kecamatan Babelan mulailah bermunculan industri rumahan yang menampung eceng gondok dari petani dan memproduksinya menjadi bergai macam kerajinan. Hampir semua eceng gondok yang dihasilkan ditampung di sentra-sentra industri kerajinan yang berada di sekitar Kecamatan Babelan.

Harga eceng gondok yang dijual petani kepada pengepul untuk bahan baku, juga cukup lumayan harganya. Yang masih basah harganya Cuma Rp. 500-1.000 per kilo. Sedangkan eceng gondok yang dijemur kering dan bertangkai, harganya mulai dari 4.500 – 6. 000 per kilo. Resiko yang dihadapi oleh para petani adalah masalah penyusutan berat eceng gondok yang sangat tinggi. Jika eceng gondok kondisi basah seberat 100 kilogram, maka ketika dijemur hanya menjadi 10- 15 kilogram.

Namun, saat ini susah mendapatkan eceng gondok dalam jumlah besar. Eceng gondok nyaris menghilang karena faktor alam dan penyempitan lahan. Disamping itu, tingginya angka permintaan juga menyebabkan berkurangnya jumlah bahan baku. “Sekarang susah nyarinya. Kalo ada paling juga sedikit, jika mau tambah-tambah, nyari di rawa-rawa,” Keluh Kasmad.

Salah seorang pengrajin eceng gondok di Kampung Pondok Soga, Nur Hasanah mengatakan, bahwa suplay bahan baku eceng gondok saat ini sudah mulai berkurang. Menurut Nur, hal ini disebabkan karena permintaan eceng gondok bukan hanya dari sekitar Kabupaten Bekasi, tapi juga dari luar kota. Kerajinan eceng gondok, kata Nur, cukup lumayan memiliki pangsa pasar. Hasil kerajinannya, seperti tas, sandal, tempat tisu, dompet, bukan hanya dipasarkan di dalam negeri tapi juga sudah di eskpor ke luar negeri.

”Tapi sekarang agak sangat susah dapat bahan bakunya, kalaupun ada, petani biasanya minta harga tinggi,” keluh Nur.***

Sumber Tulisan : Suplemen Bekasi Raya Pikiran Rakyat Edisi 17 Juli 2009
Silahkan dilanjoet...

Mobil Imut Dari Tambun  

Posted by De Brat in

Ibarat seorang pesulap yang bisa mengecilkan ukuran benda menjadi kecil. Mohamad Iswahyudi juga bisa membuat mobil, sepeda, bahkan kapal laut dan pesawat terbang, menjadi sangat kecil. Begitu imutnya, hingga bisa dijadikan hiasan di dalam rumah. Dengan memanfaatkan limbah kayu, ia membuat miniatur alat transportasi.

Saat ditemui di rumah yang sekaligus tempat kerjanya di Desa Setia Mekar Tambun Selatan, Iswahyudi terlihat tengah asyik menepekuri miniatur kapal layar. Di dalam rumah, puluhan miniatur kendaraan mulai dari sepeda angin, sepeda motor, mobil berbagai merk, kapal api, pesawat terbang, bahkan kereta api, tertata rapi di lemari. Menurut pria berbadan kurus dan bekulit legam ini, miniatur kendaraan tersebut sudah dipesan oleh orang. ”Sudah dipanjar sama orang dari Jakarta, tinggal diambil saja” katanya.

Iswahyudi mengaku sudah belajar membuat kerajinan tersebut sejak enam tahun silam. Namun baru dikerjakan serius tiga tahun lalu. Padahal tadinya ia bercita-cita menjadi pemusik. Ia bertutur, bahwa sejak SMA sudah hobby bermain musik, bahkan sampai memiliki grup band yang kerap pentas diberbagai acara festival. Tapi rupanya, nasib belum berpihak padanya. Mimpi untuk masuk dapur rekaman dan menjadi artis terkenal tak kunjung datang. Musik ternyata tidak bisa menjadi sandaran hidup untuk anak muda dari keluarga berpenghasilan pas-pasan.

Awalnya, ia hanya iseng saja. Kebetulan ayahnya adalah seorang pengrajin kusen-kusen rumah di bilangan Kranji, Bekasi Barat. Di waktu senggang, ia membuat mainan dengan memanfaatkan potongan-potongan kayu limbah. Menurutnya, pekerjaan yang ia tekuni saat ini adalah pilihan yang paling dekat dengan jiwa seninya. Menurutnya, membuat miniatur merupakan kerja bernilai seni tinggi. Sebab, dibutuhkan kesabaran, ketelitian dan kehati-hatian agar hasil yang didapat memuaskan. Sebab bahan yang ia gunakan rentan patah.

”Tadinya cuma buat mengisi waktu senggang. Buat miniatur kendaraan buat hadiah atau kado temen. Tapi ternyata malah banyak pesanan,” ujarnya.

Melihat banyaknya pesanan yang datang, ia kemudian mulai menekuni usahanya tersebut. Sebelumnya, berkonsultasi dengan keluarganya yang kebanyakan adalah pengrajin kusen-kusen rumah. Ternyata niatnya untuk banting stir dari musik ke kerajinan tangan mendapat restu. ”Sama-sama punya seni. Bermain musik butuh kesabaran, begitu juga dengan membuat miniatur,” paparnya.

Dirinya mengaku membuat jenis miniatur kendaraan berdasarkan mood. Itulah sebabnya, Iswahyudi sampai saat ini membatasi pesanan yang datang. Ia hanya bisa memberikan kepastian jumlah bukan jenis. Kebanyakan, pemesan datang dari Jakarta, Bandung dan Medan. Dalam satu hari, ia bisa menghasilkan dua buah kendaraan. Akan lebih lama jika bentuknya rumit, seperti perahu layar atau becak misalnya. Harganya pun bervariasi, mulai dari Rp. 150.000 – 800.000.

”Misalnya saya menerima pesanan sepuluh, tapi jenisnya saya yang menentukan sendiri. Bisa mobil, sepeda, becak. Pokoknya tergantung ide yang datang,” katanya berkelakar.

Untuk mendapatkan bahan tidak terlalu sulit, sebab banyak teman yang bekerja di mebel. Selain itu toko-toko kayu yang dikelola oleh orang-orang Madura juga banyak menjual kayu-kayu limbah. Usahanya juga tidak membutuhkan alat khusus. Menurutnya
ini adalah kesempatan emas untuk mengembangkan bakat seninya.

Kini ia merasa sudah mantap untuk tetap milih berkarya di bidang usaha yang sudah menghidupinya selama ini. Berbagai jenis alat transportasi telah ia hasilkan. Ia mengaku cukup puas jika sudah melihat karyanya berhasil dikerjakan. Ia bertekad akan tetap bertahan dibisnis miniatur ini. Sebab ada sisi yang unik yang ia dapatkan ketika mengerjakan usahanya. “Yang sangat berharga, saya mendapatkan kesabaran,” paparnya.

Ia mengaku masih memiliki obsesi yang sampai saat ini belum kesampaian. Yaitu memiliki toko sendiri, namun karena keterbatasan modal belum bisa terwujud. Ia juga ingin membagi ilmunya kepada orang lain, setidaknya yang bisa membantunya. ”Beberapa kali saya melatih orang, tapi hasilnya tidak memuaskan. Karena membuat miniatur semacam ini memang diperlukan bakat seni,” pungkasnya.***

Sumber Tulisan : Suplemen Bekasi Raya Pikiran Rakyat Edisi 26 Oktober 2009
Silahkan dilanjoet...

OHIDA ; Mereka Tidak Sendiri  

Posted by De Brat in

“Saya selalu menekankan kepada anak buah saya untuk menggunakan kondom saat melayani tamu. Tapi kebanyakan pasangan lelaki justru menolak, katanya rasanya kurang nikmat” ujar perempuan paruh baya yang akrab dipanggil Mami tersebut sambil meminta namanya tidak di korankan, malu katanya.

Mami adalah salah satu murcikari penyedia perempuan-perempuan pemuas birahi yang biasa mangkal di depan Islamic Center Bekasi. Kondom, kata Mami, memberikan jaminan rasa aman dari tertular virus HIV/AIDS saat berhubungan seks. Petuah itu selalu ia katakan kepada anak buahnya. Tak jarang, Mami melakukan investigasi ke Hotel tempat anak buahnya berkencan, dengan jasa Room Boy, Mami mencari tahu apakah anak buahnya menggunakan kondom atau tidak saat berhubungan. “susah juga, kalau sudah di kamar mana ada yang tahu” katanya sambil tertawa tanpa malu-malu.

Mami hanya salah satu dari sekian banyak Murcikari, Wanita Pekerja Seks (WPS), Waria dan kaum Gay yang hadir saat boyongan kantor Yayasan Mitra Sehati ke Jl. Ampera No 11, Aren Jaya, Bekasi Timur dari kantor lamanya di Jl. A.Yani, Perum Bina Marga, Bekasi Selatan. Kantor Yayasan Mitra Sehati memang sudah seperti rumah kedua bagi para pelaku bisnis esek-esek di Kota/Kabupaten Bekasi. Seperti layaknya sebuah keluarga, Suasana begitu cair dan hangat. Tak ada raut muka malu-malu, tampang para WPS bagai perempuan tanpa dosa yang rindu kehangatan keluarga, meski dibayang-bayangi stigma sebagai sampah masyarakat.

“Komunikasi yang harmonis dengan para pelaku bisnis prostitusi tidak dibangun dalam tempo singkat, namun perlu waktu lama dan kesabaran ekstra untuk menciptakan rasa saling percaya” ucap Novan Andri Purwansjah, Program Menejer Yayasan Mitra Sehati.

Keluar masuk lokalisasi untuk melakukan pencerahan dari pintu ke pintu wisma, sudah ia lakoni bersama teman-temannya sejak tahun 2004. Negosiasi yang alot dengan para tokoh kunci lokalisasi dan dicurigai sebagai mata-mata menjadi bagian dari masa awal pelaksanaan program.

Berawal dari lima orang anak muda yang memiliki gagasan dan idelisme yang sama. Novan, Jamal Al-Afghoni, A. Hazami Syahroji, Gunawan dan Iramaya, mendirikan Yayasan Mitra Sehati pada 10 Juli 2003. Program awalnya adalah menjadi patner Yayasan Mitra Mandiri Jakarta untuk melakukan pendampingan masyarakat miskin, pendistribusian produk kesehatan dan pemberian bantuan Bea Siswa kepada pelajar kurang mampu yang berprestasi di Kota/Kabuapten Bekasi.

Baru pada tahun 2004, mengandeng Family Health Internasional untuk melakukan program pencegahan Inveksi Menular Seksual (IMS), HIV/AIDS melalui intervensi perubahan perilaku di kalangan Pekerja Seks Komersial dan potensial pelanggan di wilayah Kota dan Kabupaten Bekasi. Menurut Novian, banyak WPS yang masih percaya dengan cara-cara konvensional untuk melakukan pencegahan IMS, seperti mencuci kelamin dengan air sirih, alkohol, atau mengolesinya dengan odol dan meminum antibiotik tanpa resep dokter. “padahal yang terpenting adalah memakai kondom” kata Novian.

“Tantanggannya adalah mengajak Wanita Pekerja Seks untuk konseling dan testing HIV/AIDS secara sukarela” terang Novian. Pasalnya, banyak WPS yang takut dan malu kalaui ternyata dirinya mengindap virus HIV/AIDS. Jika ternyata positif, maka akan muncul dua kemungkinan yang akan dilakukan WPS, yaitu bunuh diri atau menularkan kepada para pelanggannya sebanyak-banyaknya.

“Makanya di Mitra Sehati juga ada program pendampingan dan pembinaan terhadap WPS baik yang negative maupun pengidap positif HIV/AIDS” jelas Novian menambahkan bahwa hasil test sifatnya sangat rahasia.

Salah satu pembinaan yang dilakukan diantaranya adalah dengan memberikan training ketrampilan kepada WPS, seperti menjahit, rias pengantin dan salon kecantikan. Diharapkan, kata Noviar, para WPS akan mendapatkan bekal hidup ketika beralih profesi kelak. Sebab permasalahan prostitusi tidak bisa dihilangkan begitu saja, tapi juga harus ada solusinya. Mencegah penyebaran HIV/AIDS semestinya dilakukan secara terpadu oleh seluruh komponen, terutama Pemerintah Daerah dalam hal ini adalah Komisi Pencegahan AIDS (KPA). Hanya sayangnya, KPA Kota/Kabupaten keberadaannya timbul tengelam.

“Tidak bisa dilaksanakan dengan “tangan besi”, tapi dengan pendekatan kekeluargaan, meyakinkan mereka bahwa mereka tidak sendiri dalam menghadapi masalah ini” kata Novian.

Beberapa WPS dan Murcikari yang sempat diwawancarai oleh “PR” mengaku merasa “dimanusiakan” oleh teman-teman di Mitra Sehati dan sudah seperti saudara sendiri. Setiap tiga bulan mereka datang ke klinik Mitra Sehati untuk melakukan dukungan kesehatan secara periodik. “Saya lebih baik tidak jadi kencan jika pasangan saya tidak mau menggunakan kondom” kata salah seorang WPS.

Kini, Mitra Sehati mendampingi 1040 WPS dan 8.780 pelanggan potensial di 12 titik lokalisasi, 75 panti pijat, dan 15 Diskotik/Pub/Karoke di wilayah Kota Bekasi. Sedangkan untuk Kabupaten Bekasi, ada 4040 WPS dan 20.800 pelanggan potensial, 18 lokalisasi, 130 panti pijat dan 25 Diskotik/Pub/Karoke. Di kantor barunya, Mitra Sehati juga menyediakan klinik untuk konseling dan testing HIV/AIDS gratis dan mobil klinik keliling. Selain itu, Mitra Sehati juga melakukan penyuluhan HIV/AIDS di kalangan pelajar dan Mahasiswa di Kota/Kabupaten Bekasi, Support Group atau kelompok dukungan sebaya (pertemuan bulanan ODHA dan OHIDA). ***
Silahkan dilanjoet...