Kampoeng Djamoe, Sehat Dari Alam  

Posted by De Brat in

Di dunia kesehatan yang semakin canggih dan modern, justru penyakit kian beragam. Obat-obatan yang berasal dari bahan kimia ternyata mengandung efek samping. Masyarakat kini mulai kembali melirik pengobatan organik yang berasal dari racikan alami tumbuh-tumbuhan yang telah lama ditinggalkan. Termasuk untuk merawat kecantikan tubuh. Tumbuh-tumbuhan diyakini memiliki segudang manfaat yang berkhasiat meningkatkan fitalitas dan menjaga kebugaran tubuh tanpa efek samping.

Tidak gampang mencari tumbuh-tumbuhan berkhasiat di tengah menyusutnya lahan pekarangan. Masyarakat lebih gemar memenuhi halaman rumahnya dengan berbagai tanaman hias ketimbang menjadikannya apotek hidup yang berisi tanaman berkhasiat. Namun di Kabupaten Bekasi, ada lahan seluas 10 hektar yang diatasnya terhampar 5010 jenis tanaman Aromatik Kosmetik. Namanya Kampoeng Djamoe, yang terletak di Kawasan EJIB Pintu II, Jalan Raya Cibarusah, Kabupaten Bekasi.

Mengunjungi Kampoeng Djamoe seperti bertamasya ke pedesaan nan asri. Sepanjang mata memandang hanya tumbuhan beraneka jenis menghampar. Gemericik air mengalir jernih di tepi jalan setapak yang menghubungkan pintu masuk ke Pendopo. Kicau burung bersaut-sautan. Bermacam serangga berterbangan kian kemari. Sawah organik yang mengelilingi tempat ini membuat suasana semakin lengkap. Nampak beberapa orang tengah sibuk memberi pupuk, anak-anak sekolah yang riang berlarian dan serombongan remaja serius mengamati satu persatu jenis tanaman yang sudah di beri nama.

Seluruh tanaman yang ada di tempat ini memiliki khasiat, misalnya Jati Belanda yang bisa mengurangi kegemukan dan buahnya untuk diare. Bunga Kembang sepatu, untuk pemutih wajah. Tanaman Pegagan yang berkhasiat memperkuat daya ingat. Tanaman remujung biasa dipakai untuk pelancar buang air, daunnya untuk wasir. Tanaman keji beling dipercaya berguna untuk menyembuhkan kencing batu, serta beragam jenis tanaman berkhasiat lainnya.

Menciptakan lahan subur semacam ini, tidaklah gampang. Diperlukan waktu bertahun-tahun dan ketelatenan untuk merawatnya. Tadinya, tempat tersebut merupakan tanah tandus, tanah merah seperti tanah pada umumnya di Kabupaten Bekasi yang membuat tumbuhan enggan hidup dan berkembang. Pertama kali ditanami pada tahun 1997, semua tanaman mati lantaran kontur tanah yang tidak mendukung, belum lagi pencemaran akibat limbah industri yang berada disekitarnya. Hanya satu pohon yang sanggup bertahan, yaitu Jati Belanda. “kami sempat hampir menyerah karena tanahnya memang tidak cocok untuk ditanami” ujar Dedi Softyan, salah seorang Supervisor Kampoeng Djamoe.

Dedi dan timnya kemudian menutup permukaan tanah dengan pupuk organik yang berasal dari olahan sampah dan kotoran hewan. Sekitar tahun 2002, tumbuhan mulai berkembang. Kini koleksi di tempat tersebut mencapai 5010 jenis tanaman, bukan hanya berasal dari pihak pengelola, ada juga yang di tanam oleh masyarakat yang datang ke tempat ini. Tidak saja sebagai tempat membudidayakan, disini juga dijadikan tempat pengolahan jamu, namun ramuan areomatik dan kecantikan diolah di tempat lain. Pengunjung bisa berkunsultasi tentang khasiat setiap tanaman dan melihat langsung proses pembuatan ramuan tersebut.

Selain itu juga kerap dijadikan tempat belajar di alam terbuka untuk Anak-anak sekolah dasar. Mereka bisa belajar bercocok tanam, meracik jamu, dan diajarkan untuk mencintai lingkungan. Para mahasiswa pun kerap melakukan penelitan di tempat ini. Jika hari libur, maka Kampoeng Djamu menjadi alternative wisata alam masyarakat Bekasi. disediakan saung-saung untuk acara keluarga.

Berkunjung ke Kampeong Djamu, kita seolah kembali ke Alam. Disadarkan akan keangungan Tuhan yang tidak pernah menciptakan sesuatu dengan sia-sia. Semua punya kegunaan dan khasiat. Namun mordenisasi membuat manusai lebih menyukai hal yang instant termasuk untuk masalah kesehatan dan kecantikan. Padahal orang dulu sehat-sehat dan berumur panjang karena selalu mengkonsumsi yang berasal dari alam, tapi orang sekarang gampang terkena beragam penyakit.***

Sumber Tulisan : Suplemen Bekasi Raya Pikiran Rakyat Edisi 24 November 2008

This entry was posted on Kamis, 07 Oktober 2010 at 10:25 AM and is filed under . You can follow any responses to this entry through the comments feed .

0 komentar

Poskan Komentar